Paradox Pembangunan

salah satu rumah hunian warga

salah satu rumah hunian warga di sekitar desa oebopo, kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan dan telekomunikasi di daerah ekonomi tertinggal cenderung lebih lambat dibandingkan pembangunan rumah ibadah*.

Berdasarkan interpretasi penulis, hal ini dapat bermakna sebagai berikut:

1. Masyarakat daerah tertinggal, pemerintah setempat dan pemertintah pusat lebih mengutamakan keselamatan rohaniawi dibandingkan badani

2. Pemerintah belum mampu menyediakan materi pembangunan agar masyarakat menjadi sadar untuk melawan jerat kemiskinan

3. Belum lengkapnya point kedua di atas menyebabkan masyarakat masih belum matang secara idea

4. Organisasi keagamaan jeli melihat bahwa masyarakat hidup  dengan berbagai kekurangan-kemiskinan Materi dan Idea sehingga membawa misi menyadarkan diri masyarakat lewat pembangunan rumah ibadah di daerah-daerah tertinggal

5. Sementara pemerintah lepas tangan dan  membiarkan pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan dan telekomunikasi dalam masyarakat tertinggal tetap seperti 10-20-30 tahun yang lalu sedangkan di pusat Mr. presiden terus mendoktrin lewat pidatonya “kerja,kerja, dan kerja”  sementara di daerah-daerah tertinggal yang terdengar hanyalah kalimat “teruslah berdoa

Ketika menulis ini, penulis teringat akan pernyataan dari Tan Malaka dalam bukunya Naar De Republiek Indonesie yaitu “pemerintah mengetahui dengan tepat jumlah penduduknya beserta usia pekerjaan jenis kelamin agama dan lain lain namun lupa untuk memberi memberi mereka makan satu persatu.

Penulis ingin mengatakan bahwa masing-masing kita percaya akan adanya hidup setelah kematian namun janganlah lupa bahwa kita masih hidup di dunia dan bertanggung jawab atas diri sendiri dan masyarakat tempat kita tinggal sebagai syarat untuk hidup di dunia selanjutnya

Tubuh perlu diberi makan demikian juga jiwa. Jangan hanya memberi makan tubuh, jangan hanya memberi makan jiwa tapi berilah makan kedua-duanya, sehingga masing-masing kita dapat benar benar hidup dan dapat bersama-sama lepas dari jerat perangkap-penjajahan kemiskinan badania dan rohaniwi.

*pengamatan penulis di berbagai lokasi, ex: Sumba dan Timor.