Marhaenis utopis dan Marhaenis realis

Marhaen utopis dan marhaen realis
Banyak sudah coretan untuk menjawab bagaimana seharusnya tulisan ini dimulai.
Sebenarnya penulis ingin mengambil beberapa judul untuk dijadikan topic, yaitu: marhaen di tengah gelombang samudera atau marhaen utopis dan marhaen realis. Nampaknya topic kedua lebih tepat untuk ditulis, lebih tepatnya sebagai deklarasi penulis akan banyak hal yang berbeda antara dunia idealism dan dunia realism, dunia akademik dan di luar akademik.
Penulis ingin katakana bahwa di abad 21, menjadi seorang marhaenis janganlah bodoh dan buta matanya yang hanya dipergunakan untuk membaca tulisan pada buku-buku perjuangan, atau sekedar berdiskusi dengan rekan-rekan sesame pejuang menggunakan kacamata kuda dengan acuan-buku-buku namun miskin pnengalaman, tidak mengerti akan kebutuhan masyarakt terkhususnya petani dan nelayan.
Penulis bersyukur karena pernah menggunakan kacamata kuda yang hanya pandai membaca dan menerjemahkan beberapa kata-kata buku, beberapa di antaranya penulis-penulis pejuang kemerdekaan seperti tan malaka, sukarno, moh, hatta, dan akhir-akhir ini tulisan sutan syahrir yang menarik. Tidak luput pemikir sekaligus pejuang besar dunia seperti marx, engels, stalin, lenin, Trotsky, che Guevara dan beberapa lainnya. Namun beberapa di antaranya terkhususnya penulis pejuang kemerdekaan Indonesia memiliki tulisan yang sudah usang dan tidak relevan dengan peradaban bangsa Indonesia tahun 2016 kini.
Perkara berpikir dan perkara berjuang sudah lebih kompleks dengan masuknya berbagai inovasi manusia dari berbagai belahan dunia dalam perkara kemudahan kerja terkhususnya inovasi di bidang pertanian dan kelautan.
Tani dan nelayan abad 21 tidak seharusnya tergantung lagi pada alat-alat produksi tradisional seperti cangkul, sekop, ling gis, kerbau, perahu-perahu sederhana, kayu pendayung, dan seterusnya yang masih sangat sederhana seperti abad jauh yang telah lalu.
Alat-alat atau lebih tepatnya mesin-mesin harus dapat diperoleh dan dipergunakan oleh kaum tani nelayan agar segera lepas dari jerat kemiskinan dan kebodohan.
Mesin menanam padi, mesin memotong sekaligus merontokkan padi, alat penggilingan, perahu kecil sampai besar sudah seharusnya dibekali mesin-mesin penggerak, mesin Derek, pukat kecil sampai pukat besar, dan berbagai inovasi pertanian dan kelautan yang terbarukan.
Agak sulit memang untuk terpenuhi namun jawaban atas masalah pertanian dan kelautan ialah perlu adanya insentif agar menambah daya juang serta menambah hasil atas apa yang dikerjakan.
Insentif yang dimaksud ialah perhatian pemerintah dan kerjasama dari pihak tani –nelayan agar bertanggung jawab pada pengelolaan bantuan dari pemerintah dengan prinsip gotong royong di antaranya.
Penulis menyadari bahwa gagasan seperti ini perlu dibagi juga terkhususnya kepada rekan-rekan yang memperjuangkan kehidupan buruh,tani, dan nelayan. Berapa di antara kaum kita yang mengetahui dan mampu menjabarkan kebutuhan saudara-saudara kita kaum tani dan kaum nelayan? Berapa di antara kita yang sudi mengabdikan jiwa dan raganya bermandi keringat tepat di bawah matahari mengerjakan pekerjaan tani dan nelayan? Berapa di antara kita mampu memaknai kehidupan mereka? berapa di antara kita mau mengalaminya? Mengetahui jangan hanya kulit saja. Atau hanya jago berorasi yang sesungguhnya seperti memanggang dengan api bernyala matang dan gosong luarnya namun masih mentah di bagian dalamnya. Kita haruslah dapat menjadi fasilitator, atau membikin kegiatan-kegiatan sosialisasi, atau membantu tani nelayan membikin proposal bantuan kepada pemerintah sesuai dengan kebutuhan mereka, daripada hanya melakukan rapat-rapat membahas anggaran, kunjungan-kunjungan yan tidak beda dengan safari-safari para elit, berdemonstrasi dan kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak berdampak secuilpun pada hidup tani dan nelayan. BERAT temanku, ya berat menjadi tani pun juga nelayan.
Dan ucapan terimaksih kepada rekan-rekan tani juga nelayan yang sudi membagi pengetahuan dan pengalaman ini secara langsung kepada penulis.

/Bera, Sumba 2016