Gotong Royong dalam Pendidikan Indonesia

Gotong royong dalam sistem pendidikan Indonesia

Pendahuluan
Baru semalam penulis menonton sebuah mata acara di salah satu stasiun tv swasta indonesia
Pada salah satu konten acara tersebut dimuat seorang anak berprestasi yang sukses menyelesaikan studinya pada salah satu kampus terkemuka di indonesia hanya dalam waktu tiga tahun meskipun ia merupakan lulusan paket C (ujian setara SMA), menariknya ia memilih keluar dari sekolah formal karena tidak mau menerima bocoran soal ujian nasional oleh sekolah formalnya. Integritas nya yang menolak menerima bocoran soal serta memilih keluar dari sekolah akibat kekecewaannya atas lembaga pendidikan di indonesia. Ia juga sukses mendirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan nonformal bagi masyarakat yang menaruh minat di bidang pendidikan dan pengetahuan.
Latar belakang
Menariknya adalah salah satu aturan utama dari sekolah tersebut ialah dilarang menyontek yang akan berdampak serius bagi pelaku penyontek tersebut.
Menyontek dan menduplikasi
Menduplikasi atau meniru karya orang lain memang tidak dapat dibenarkan apalagi dalam hal ujian namun di sisi lain pada aplikasi atau penerapan dari ujian pada berbagi lembaga tingkat pendidikan konsep menduplikasi atau peniruan ini tak jarang disebabkan oleh kesepakatan kedua belah pihak yaitu si pemberi dan penerima atas dasar saling membantu yang saya sebut sebagai kerja sama (tolong menolong).
isi
Point kerja sama ini yang luput dan tidak banyak diberi ruang oleh sistem pendidikan bangsa indonesia terlebih tidak ada porsi pada ujian-ujian kenegaraan.
Penulis melihat bahwa konsep ujian dengan menutup ruang berdiskusi antara sesama siswa bukanlah kebiasaan atau kultur bangsa yaitu komunal bukan individualis yang berorientasi pada kesuksesan pribadi melainkan kesuksesan bersama.
Pendidikan menjadi penting karena di situlah dibentuk dan ditumbuhkannya karakter setiap pribadi anak bangsa yaitu yang idalnya ialah pribadi yang mendahulukan kepentingan kelompok atau orang lain di atas kepentingan pribadi.
Pemerintah ataupun instrumen pendidikan perlu untuk lebih mendorong sifat kerjasama di antara para siswanya bisa dalam bentuk kelompok-kelompok diskusi, kelompok bermain, kelompok olahraga dan berbagai inovasi lainnya yang semakin menumbuhkan dan menajamkan ciri sifat kegotongroyongan ini.
Ke depannya ujian-ujian bersifat tes berbentuk akhir nilai tidaklah relevan bagi bangsa ini.
Melainkan keterampilan mengayom, memimpin, serta memberikan solusi dalam kelompok yang harus diberi perhatian, bisa dalam bentuk skor sebagai indikatornya.
Memang belum terdapat metode yang terlalu baik untuk mengukur beberapa komponen gotong royong tadi jika dibandingkan dengan komponen-komponen yang sudah ada dan diterapkan dalam dunia pendidikan kita.
Penutup
Intinya adalah penulis menghendaki keterampilan mengayomi, memimpin, pemecahan masalah, negosiasi, dan komunikasi antar individu dalam kelompok perlu diberikan porsi yang lebih utama dibanding sekedar ujian dengan konsep “gunakan kemampuan pribadimu untuk sukses” penulis menghendaki konsep “gunakan kemampuan setiap komponen anggota kelompok, sekecil atau sebesar apapun untuk meraih kesuksesan” penulis pikir konsep ini yang harus dipakai dalam bentuk pendidikan formal maupun nonformal indonesia ke depannya.
/4 hari setelah hari pendidikan indonesia.
/Bera, sumba.