Hidup Adalah Perjuangan

Vita Est Militia, Hidup Adalah Perjuangan.

Perjuangan harus selalu hidup selama manusia bernafas.

Tulisan-tulisan saya sebelumnya mungkin ada yang sependapat tapi juga menjadi bahan kritikan atau tertawaan bagi rekan-rekan pembaca yang belum sepenuhnya open minded karena memiliki perbedaan sudut pandang dalam melihat.

Perbedaan ini penulis akui sebagai sebuah bentuk alamiah yang universal dan merata terjadi pada setiap manusia, meskipun itu kembar. Namun yang menjadi penting untuk diperhatikan adalah point kesamaan dari setiap perbedaan cara pandang tadi, itulah yang sebaik-baiknya harus dikelola menjadi sebuah sintesa untuk menjawab idea yang dianggap bermasalah (berbeda). Penulis melihat bahwa idea atau konsep kebenaran milik pribadi tidaklah bijak bila dipaksakan kepada pribadi lain, ihwal memberi tahu itu bisa-bisa saja, namun lebih jauh dari itu seperti memaksa, menertawai, dan segala tindakan merendahkan idea orang lain yang dianggapnya benar kuranglah tepat dipakai pada era Global sekarang.

Pengharapan

Saya sering merenungi bahwa hidup itu bagaikan sebuah proses pengulangan, manusia hanya mengulangi kejadian-kejadian yang pernah dialami manusia lain. Proses kelahiran, study, bekerja, menikah, kematian, kelahiran, study dan seterusnya untuk mengulangi kejadian tempo lalu. Lalu di mana bagian menariknya?

Butuh waktu yang cukup lama memang untuk dapat menjawab dengan makna bukan sekedar menjawab jawaban kosong.

Bagi saya (untuk sementara ini) yang menjadikan kehidupan menarik ialah pengharapan akan apa yang mungkin terjadi pada hari esok.

Yah untuk sementara itu jawaban dari seorang yang belum memiliki pekerjaan (pekerjaan-pekerjaan mainstream) seperti saya dan banyak sarjana lain di luar sana LOL . But dont be so serious, bukannya semuanya hanyalah proses pengulangan dan di sana selalu ada pengharapan?

Masyarakat Onta Dan Masyarakat Kapal – Udara

Masyarakat Onta Dan Masyarakat Kapal-Udara

Pada suatu hari saya punya anjing menjilat air di dalam panci di dekat  sumur.

Saya punya anak Ratna Juami berteriak:

- “Papie,’ papie, si Ketuk menjilat air di dalam panci!”

+ Saya jawab: “Buanglah air itu, dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin.”

- Ratna termenung sebentar. Kemudian ia menanca: “Tidakkah Nabi bersabda, bahwa panci ini mesti dicuci tujuh kali, antaranya satu kali dengan tanah?”

+ Saya menjawab: “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin. Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang me­makai sabun dan kreolin.” Muka Ratna menjadi tenang kembali!

Itu malam ia tidur dengan roman muka yang seperti bersenyum, seperti mukanya orang yang mendapat kebahagiaan besar.

Ir. Sukarno