AI MAYEALA Di Ekosistem Prai Pitting

Nenek moyong orang Sumba sejak dahulu mengenal satu jenis kayu yang tergolong sangat kuat untuk bahan tiang utama dalam membangun rumah adat. Jenis kayu tersebut menurut dialek bahasa Wanukaka dikenal dengan nama Mayeala, dan untuk daerah-daerah lain di Sumba menurut David Mitchell (2009) menyebutnya dengan nama: mayela (Kambera, Anakalang), mazela (Weiwewa), maghela (Kodi). Menurut David Mitchell (2009) bahwa meyela termasuk kayu most prestigious bagi orang Sumba dan dibedakannya atas tiga variates, yaitu: mayela taramanu (with spikes on its trunk), mayela karara (has lobate leaves like bredfruit = karara) dan mayela naga ( has oval leaves like jackfruit = naga). Sejak dahulu pula bahwa orang Sumba mengenal mayeala sebagai jenis pohon langka (jarang) tumbuhnya, termasuk di dalam kawasan-kawasan hutan besar, hal ini tercermin dalam ungkapan-ungkapan bahasa adat sebagai berikut:
mayeala tubu dona, kapaka jaji meaha
artinya : pohon mayeala tumbuh sendirian, pohon kapaka jadi tunggal.
Ada pula satu ungkapan lain dalam bahasa Sumba (Wanukaka) terkait kayu mayeala sebagai bahan tiang dalam membangun rumah adat Sumba sebagai berikut:
bora ai mayeala, bangi ai kawihu
artinya: bora (nama laki-laki) sebagai simbol dari 2 tiang kayu
mayeala dari 4 tiang utama pada rumah adat
bangi (nama perempuan) sebagai simbol dari 2 tiang kayu
kawihu dari 4 tiang utama pada rumah adat

Tidak diketahui secara pasti apakah jenis kayu tersebut juga tumbuh di daerah-daerah lain di Indonesia atau negara lain di dunia, termasuk nama latin sudah tersedia atau tidak. Namun di balik sekelumit ulasan tentang kelangkaan dan keunikan kayu mayeala tersebut di atas, ada fakta yang disaksikan penulis bahwa pada ekosistem kecil di Prai Pitting pada saat ini sekitar puluhan pohon mayeala tumbuh dan terus berkembang biak secara alamiah. Berdasarkan fakta tersebut, maka dapat dikatakan bahwa salah satu contoh habitat alamiah yang ideal bagi mayeala ada di sana.

Tulisan ini bertujuan untuk mengulas mayeala dari aspek-aspek : ciri-ciri botani, sejarah tumbuh dan distribusinya di dalam ekosistem (Ekosistem Prai Pitting), ancaman dan rekomendasi pengelolaannya untuk anak cucu pada masa mendatang

Adapun ciri-ciri botani pohon mayeala tersebut digambarkan sebagai berikut:
– Akar tunggang serupa akar pohon nangka
– Batang dan cabang serupa batang/ cabang pohon nangka, tetapi memilik kulit batang agak lebih gelap (cenderung agak hitam)
– Kulit batang memiliki getah berwarna putih, serupa getah pada pohon nangka
– Daun: ukuran daun hampir sama dengan ukuran daun nangka tetapi pada bagian ujung daun agak lancip meruncing, warna daun hijau tua (sedikit lebih gelap /hitam dibandingkan dengan daun nangka)

Daun dan Buah Mayeala ( difoto pada tanggal 12-12-2008)

- Buah:

Buah mayela berukuran relatif kecil, hanya sebesar bakal buah nangka yang masih kecil (panjang sekitar 3-5 cm). Di dalam setiap buah matang terdapat sekitar 1-3 biji yang berukuran sebesar biji kacang tanah. Sejak buah masih kecil hingga matang warna kekuning-kuningan, daging buah matang banyak mengandung air, terasa sangat empuk dan mudah rusak. Buah mayeala matang sangat disukai untuk dimakan oleh berbagai jenis burung antara lain: kelelawar, burung dara, kakatua, nuri. Musim berbuah sekitar bulan Oktober – Desember ?? setiap tahun.

- Kayu:
Khususnya kayu pada bagian teras batang awalnya berwarna kekuning-kuningan (serupa warna teras kayu nangka atau warna umbi tanaman kunyit) tetapi pada saat selanjutnya warna kuning tersebut berubah menjadi hitam legam. Sifat lain dari teras kayu mayeala yang cukup dikenal adalah licin, tampak mengkilap dan sukar lapuk, termasuk bagian batang dari tiang rumah adat yang ditanam di dalam tanah.

batang pohon kayu Mayeala difoto pada tanggal 12-12-2008

Sedikit sejarah Kampung Prai Pitting perlu diuaraikan karena terkait sebagai habitat atau ekosistem mayeala yang diangkat dalam tulisan ini.
Adapun Kampung Prai Pitting dimaksud pada awalnya merupakan kampung kebun dari nenek moyang 2 kabihu yang mendiami kampung sekarang ini, yaitu Kabihu Wei Wuli dan Kabihu Weina Tuna. Diperkirakan sudah sekitar 9 – 10 generasi yang mendiami kampung ini. Dituturkan secara turun-temurun bahwa ekosistem Prai Pitting pada awalnya dulu adalah milik kabisu Wei Wuli, tetapi pada saat kemudian nenek moyang Waina Tuna lebih awal menjamah dan bermukim di tempat ini dan terjadi transaksi pembagian lahan anatara nenek moyang kedua kabisu tersebut. Kawasan lahan pada bagian barat menjadi bagian kabisu Weina Tuna sedangkan kawasan bahagian timur menjadi milik kabisu Wei Wuli. Ada beberapa pohon kelapa berumur cukup tua yang masih disaksikan oleh penulis pada sekitar tahun 1970-an – awal tahun 1980-an, dimana pohon kelapa tersebut diperkirakan adalah seusia dengan awal pertama bermukimnya nenek moyang di tempat ini.
Kisah sejarah nenek moyong kabisu Weina Tuna khususnya, sebelum menetap di Prai Pitting bahwa awalnya mereka termasuk cukup mengembara dalam mencari lahan pertanian dan pemukiman yang ideal bagi mereka. Hal ini adalah seiring dengan bertambahnya anggota keluarga dan tuntutan kebutuhan pangan dan papan yang terjadi di kampng besar di Weina Tuna pada waktu itu. Awal mulanya mereka berkebun di Lahi Dakawuku dan Hoba Komih/Pahangu Ladi. Kemudian mereka berkebun dan membangun pemukiman di Tei Raa untuk selama kurun waktu yang retatif lama, selanjutnya mereka mengungsi di Hoba karena di Tei Raa mereka sangat terancam oleh serangan orang Lamboya yang melemparkan batu dan menggulingkan batu-batu berukuran besar dari atas puncak bukit Lahi Moru/Pangadu Wallu. Saat itu adalah masa kolonialisme Belanda dimana sedang berkecamuknya perang antar suku, antara orang Wanukaka dengan orang Lamboya (penggal kepala). Selanjutnya di Hoba pun mereka tak lama tinggal karena di tempat ini ternyata sangat dekat dengan sebuah danau kecil (hoba) yang sering mengakibatkan tenggelam dan matinya berbagai hewan peliharaan (ayam dan babi) mereka.
Akhirnya mereka berpindah lagi di sutau tempat dimana sekarang ini dikenal dengan nama Kampung Prai Pitting. Adapun aktivitas awal yang dilakukan nenek moyang pada saat awal pembukaan lahan dan pembangunan pemukiman di Prai Pitting adalah membabat hutan/rumpun bambu betun (pitting) yang saat itu tumbuh sangat rimbun. Dari kisah sejarah hutan bambu (pitting) inilah sehingga nama Prai Pitting diwariskan sampai saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>