Pendidikan NTT (Semakin) Tertinggal

penempatan program SM-3T NTT

penempatan program SM-3T NTT

Berbicara tentang pembangunan Sumber Daya Manusia lewat pendidikan khususnya di Nusa Tenggara Timur jelaslah provinsi ini masih tertinggal dibanding provinsi lain di Indonesia (Indeks pembangunan manusia NTT 62,5 dari rerata nasional yaitu 76. IPM NTT urutan 31 dari 33 provinsi di Indonesia, Menko Kesra Agung Laksono, 2013).

Salah satu upaya pemerintah pusat dalam peningkatan Indeks pembangunan manusia umumnya dan NTT khususnya ialah melalui Program  SM-3T yaitu terdepan, terluar dan tertinggal yang ditujukan untuk meningkatkan ekonomi, kesehatan dan pendidikan.

Yang terjadi di NTT justru berbanding terbalik dilihat dari minimnya perhatian pemerintah pusat terhadap calon mahasiswa baru utusan daerah (tertinggal) untuk menuntut ilmu di PTN tersebut yang terkesan dipersulit dengan bobot soal tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SBMPTN) yang hampir tidak mungkin soal-soal tersebut dapat dijawab dengan sempurna bahkan oleh saya yang telah empat tahun mengenyam bangku kuliah di universitas negeri yang terdepan di NTT namun terluar dan tertinggal ini dengan tingkat kesulitan soal 80-100*.

Pertanyaannya mana mungkin calon mahasiswa baru dari daerah tertinggal NTT mampu mencicipi pendidikan tinggi dan dapat terwujudnya pembangunan manusia NTT bilamana soal-soalnya di luar dari pengetahuan mereka.

Listrik sebagai salah satu syarat memperoleh informasi dan pengetahuan sulit didapat dan masih menjadi barang langka di NTT, sedangkan soal-soal SBMPTN berisikan pengetahuan skala nasional dan internasional, Mustahil kader-kader muda anak bangsa ini mampu tersenyum menghadapi soal-soal yang dipersulit tersebut**.

Kritik sekaligus masukan untuk pihak yang terkait ialah standar nasioanal haruslah fleksibel untuk memotivasi kader-kader muda NTT karena bila tidak efek psikis akan muncul dan timbul mindset bahwa (masuk) kuliah itu sulit, mahal dan lain-lain. NTT ke depannya akan semakin malas dan hanya menjadi kuli tenaga di bumi sendiri diperintah oleh orang-orang asing. Sedangkan PTN merupakan jawaban sentral dari harapan banyak anak NTT namun merupakan pilihan ke 3 atau empat bagi anak-anaka dari daerah maju.

Pemerintah saya anggap tidak serius dan penuh dengan kalimat manis bahwa pembangunan manusia di NTT harus segera dipercepat sedangkan eksekusi program lambat dan NIHIL manfaat.

Seperti kita semua ketahui bahwa hanya pendidikan yang dapat menjadi jawaban atas persoalan bangsa dalam hal pembangunan manusia, bapak-bapak Istana bila kami tidak diberi pendidikan, lantas apa yang hendak bapak berikan? Gaji atas tenaga kami? Kuli atas negeri kami? Beri kami pendidikan yang merata, karena itu yang kami butuhkan, bukan retorika “kerja, kerja dan kerja”.

Dari anak bangsa yang katanya terdepan namun sebenarnya terluar dan tertinggal.

 

 –

*standar penulis.

**oleh siapa dan untuk siapa?