Nasionalisme Musiman

Nasionalisme Musiman

Tingkatan tertinggi dari Nasionalisme bukan terletak pada paham kenegaraan atau kebangsaan semata namun lebih terletak pada tatanan peri kemanusiaan. Kemanusiaan yang bukan memandang latar negara, bangsa, warna kulit, politik, agama, budaya, dstnya namun bagaimana memandang manusia lain sebagai satu sama dengan kita; tidak terbatas pada batasan-batasan tertentu.

Dalam kasus Duo Bali Nine (dua orang warga negara Australia) yang hendak dieksekusi mati misalnya, menurut penulis; pemerintah menggunakan kacamata analisis Nasionalisme sempit semata yang tidak pada tempatnya, seperti alasan kedaulatan negara yang tidak boleh diintervensi asing dan alasan Nasionalisme (?) tentu tidak tepat. kacamata Nasionalisme yaitu peri kemanusiaan yang harus dipakai, diperkuat dengan budaya dan tatakrama ketimuran kita yang susah untuk mengatakan tidak apalagi menolak permintaan orang lain (negara lain). Pada kasus ini bolehlah saya menyatakan bahwa bangsa Indonesia perlahan (sengaja) melupakan jati diri bangsa.

Jika ingin berdaulat bukanlah dengan eksekusi Warga Negara lain, yang padahal di sisi lain kita juga menolak eksekusi Warga Negara Indonesia di luar negeri. Pembangunan sumber daya manusia yang harus diutamakan oleh pemerintah dan seluruh masyarakat.

Sungguhpun dengan mengeksekusi duo bali nine takkan berdampak apapun bagi harkat dan martabat bangsa, hanya justru citra ketidak adilan dan pembunuh saja yang melekat pada nama Indonesia.

One thought on “Nasionalisme dalam kasus Duo Bali Nine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>