[sebuah tinjauan] “Saya orang sumba”, “saya asli sumba” sering kita dengar pernyataan tersebut; mungkin yang dimaksudkan ialah bapak dan ibunya adalah orang sumba, demikian juga bapak dan ibu dari bapaknya juga bapak dan ibu dari ibunya adalah orang sumba demikian ke atas seterusnya-seterusnya, seterusnya sampai kita tiba pada akar nenek moyang orang sumba,, sesuai dengan yang terlantun pada hikayat (kajalla) kedatangan para Marapu (selaku nenek moyang orang sumba yang dipuja sampai sekarang) dari Makkah tabakul (Mekkah-Arab Saudi yang membesarkan kita)

perjalanan marapu

perjalanan marapu

kemudian berbunyi: Maka bermufakatlah para leluhur Sumba untuk berangkat meninggalkan Malaka Tanabara (Malaysia), dengan melintasi Hapa Riu Ndua Riu (kepulauan Riau), Hapa Njawa Ndua Njawa (Pulau Jawa), Ruhuku Bali (Pulau Bali), Ndima Makaharu (Bima, Pulau Sumbawa), Endi Ambarai (Ende, Pulau Flores), Numa
Hadamburu, lalu tiba di Haharu Malai – Kataka Lindiwatu (Haharu, Pulau Sumba)
.

Nyatalah bahwa sebenarnya Sumba Asli itu tidak ada, meskipun terkadang beberapa sumber menyinggung bahwa ada tiga golongan orang yang terlebih dahulu menetap di sumba yaitu (1)tau paita, (2)manusia milimungga, (3)Meu Rumba. Setiap orang sumba sangat pasti meyakini asal mereka ialah seperti yang disebutkan di awal Makkah tabakul-Malaka tanabara, dst..Sumba dewasa ini kian melupakan jati diri sebagai bangsa yang besar, bangsa yang satu-bergotong royong hingga tiba dengan selamat tiba di tanah sumba; membangun kabihu (suku), kawin-mawin dan beranak pinak. Masuknya modernisasi tanpa filter dari masyarakat mengakibatkan degradasi nilai yang sangat besar pada masyarakat sumba: sawah mulai dikerjakan secara individu (=meninggalkan prinsip kebersamaan dan gotong royong/komunal asli), tanah diperjual-belikan kepada kapitalis dan Imperialis modern dengan harga yang semurah-murahnya dan dalam tempo waktu 5 sampai 10 tahun beranak pinak lah tanah yang dijual tadi :D semakin tinggi jayalah kepakan sayap Kapitalis-Imperialis di tanah Sumba hal ini berdampak pada masyarakat Sumba yang semakin miskin hari ke hari dan tidak mendapat keuntungan dari masuknya modernisasi. Sumba kembali dijajah bukan lagi oleh penjajah Jepang maupun Belanda melainkan oleh ide (individualis dan persaingan) serta materi yaitu jeratan modal  dan uang dalam jumlah banyak dari kaum Kapitalis-Imperialis.

gotong royong di sumba [4]

gotong royong di sumba [4]

Sumba- suatu saat pasti akan maju (sejahtera), PASTI. Namun biarlah proses menjadi faktor penting dalam mencapai hasil kemajuan tadi. Sumba, gotong royong adalah jati diri; INGATLAH PRINSIP KOMUNAL (seperti di negara-negara Asia lainnya) yang telah terjadi dan diwariskan nenek moyang-marapu: Membangun rumah, Acara kawin-mawin, berkebun, menanam padi, menggembala kerbau, hingga ketika habis nafas,, ketika meninggal- keluarga yang mengistirahatkan dan mengurus hingga sampai ke tempat berkumpulnya para nenekmoyang-marapu.

Catatan penting perjalanan:
Sampai saat ini, masyarakat Sumba mengenal sejumlah ungkapan yang berkaitan dengan pengalaman para leluhur orang Sumba ketika melewati dan berinteraksi dengan penduduk pada sejumlah daratan yang berada dalam lintasan menuju ke pulau Sumba sebagaimana diringkas dari Wohangara (tanpa tahun).
Ungkapan-ungkapan tersebut antara lain:
(a) La Malaka – La Tana Bara. Ini adalah ungkapan untuk semenanjung Malaka dan Tanah orang berkulit putih atau Yunan yang penduduknya berkulit putih kekuning-kuningan. Ungkapan untuk penduduk ini juga biasa di sebut dengan Tau Bahangu Bara Wingiru. Dari tempat ini diyakini para leluhur membawa bibit padi dan ubi keladi.
(b) La Bakungu – La Pinangu. Ini adalah ungkapan untuk Pulau Bangka dan Pelabuhan Pangkal Pinang. Dari tempat ini paraleluhur membawa timah putih atau Tambura Bara untuk patri.Ungkapan yang masih digunakan adalah Pa-hamburu Tambura– Pa-tabuku Kaliangu atau musyawarah dan mufakat.
(c) Riu – Hapa Riu. Ini adalah ungkapan untuk Kepulauan Seribu. Pengertian Riu Hapa Riu sebenarnya seribu dihalangi seribu. Hal ini terjadi karena pada saat kepala rombongan Umbu Meha Nguru menyuruh Umbu Dibu Rara – Ratu Umba untuk menghitung kepulauan seribu, dia tidak dapat menghitung dengan benar karena mabuk laut. Jawaban yang dia berikan adalah Riu Hapa Riu atau Seribu yang dihalangi seribu.
(d) La Tana Jawa Bokulu – La Tana Bungguru. Ini adalah ungkapan untuk Pulau Jawa. Ungkapan La Tana Jawa Bokolu adalah Tanah Jawa yang luas, yang terluas dari pulau-pulau yang mereka lalui. Ungkapan Tana Bunguru adalah tanah yang selalu berkumpul (Kabunguru). Dipercayai para leluhur belajar tentang musyawarah dalam mengambil keputusan dari wilayah ini. Dari wilayah ini, para leluhur membawakan bibit palawija, ubi tanah, ubi gadung (iwi) yang diberikan oleh Raja Jawa yang mereka sebut dengan ‖Umbu Jawa Anggu Duangu‖. Untuk menghargainya mereka juga memberikan nama pada anak-anak mereka Hamba Ratu Jawa, Jawa Halangu, Jawa Halahina, Jawa Kori.
(e) La Ruhuku – La Mbali. Ini adalah ungkapan untuk Pulau Lombok dan Bali. Dari wilayah ini para leluhur membawa bibit padi ladang, jagung dan kacang tanah. Ungkapan yang menyinggung pengalaman dengan penduduk Bali ini masih terjadi hingga saat ini dalam doa atau nyanyian ketika panen padi ladang. Beberapa kabihu juga memberikan nama anak mereka Rambu Mbali Nggaji yang berarti Gadis Cantik.
(f) La Ndima – La Makaharu atau Ladingu – Hambawa. Ini adalah ungkapan untuk Pulau Bima dan Pulau Sumbawa Besar. Dari wilayah ini para leluhur mendapat padi ladang yang hitam berasnya (Uhu Tai Nggangga) dan bibit kapas (Kamba).
(g) La Mbata La Tuka Mata. La Mbata adalah ungkapan untuk Pulau Lembata dan Adonara. Perjalanan para leluhur mencapai tempat ini oleh karena dari Pulau Sumbawa, para leluhur memilih untuk menyusuri bagian utara dari Pulau Flores guna menghindari Selat Sape (selat antara Pulau Flores dan Pulau Sumbawa) yang memiliki arus yang sangat kuat. La Tuka Mata merupakan ungkapan yang diberikan pada selat Umbai, yakni selat antara Pulau Flores bagian Timur dan Pulau Adonara yang juga memiliki arus yang kuat. La Tuka Mata artinya ketika melalui selat Umbai yang ombak lautnya sangat besar, seluruh penumpang tidak boleh tidur, tidak boleh ribut, tidak boleh pasang api. Untuk menjadikan kenangan terhadap Pulau Adonara, ada orang Sumba yang diberi nama Hina Andunara, Huki Andunara dan Hina Tuka.
(h) La Enda – La Ndau. Ungkapan La Enda untuk Pulau Ende yang berada di sebelah selatan Pulau Flores. Sementara itu daratan besarnya (Pulau Flores) di sebut dengan Tana Kawau, atau pulau yang ditutupi oleh asap karena puncak gunungnya yang selalu berasap. Kata Kawau berasal dari kata ‖Kawuu‖ atau asap belerang. Sementara itu La Ndau adalah ungkapan untuk Pulau nDao yang berdekatan dengan Pulau Rote.

#

“I am sumbanesse”, “I am Sumba Native” we often heard that; maybe it means his/her father and mother is sumbanesse and so then father and mother of his fatherand father and mother of his/her mother is Sumbanesse, concisely all of his/her family member (father, mother, grand father/grand mother) is sumbanesse, if we try to retrac to the first coming of the ancestors (Marapu)of sumba from Makkah tabakul (Meccah-Arab growing up us) based on story spoken by the chieves of sumbanesse: the ancestors of sumba agreed on leaving Malaka Tanabara (Malaysia), gone across Hapa Riu Ndua Riu (Riau Archipelago), Hapa Njawa Ndua Njawa (Java Island), Ruhuku Bali (Bali Island), Ndima Makaharu (Bima, Sumbawa Island), Endi Ambarai (Ende, Flores Island), Numa Hadamburu, and then arrived to Haharu Malai – Kataka Lindiwatu (Haharu, Sumba Island). we can see that truly sumba Native is none, although sometime from the other sources said that there was three groups which already lived in Sumba that is (1) tau Paita, (2) Milimungga Man, (3)Meu rumba. every people of sumba belief that they were came from Makkah Tabakul-Malaka Tanabara,, and so on.

Sumba nowadays is far from (the origin of) themselves, they have forgot who they are; as a great nation, a nation and united people in a mutual coorperation travelled half of the world and then came to sumba Island; building a Kabihu (clan/village), married and generations. The entry of modernization without filtering by the people of Sumba affected to the large degradation of values including the mutual coorperation (original communal); they were now farming not together in team but individualist this means they were leaving the togetherness principal. The soil is saled to capitalist and modern imperialist with low prices and in five to ten years the saled soil bringing gain profit; the capitalist-imperialist is more powerfull in sumba and the Sumbanesse is poor day to day, they does’t feel the adventage of the modernization . Sumba is colonialized (again) not by Japan or Netherland but by idea (individualis and competition) also matter that is financial trap from capitalist and imperialist sumba, in future absolutely will prosperous but let the procces become an important factor to grap the prosperity. sumba, mutual cooperation is the really them. remember of the communal principle (like other Asian countries) which did by the ancestors (Marapu) we can see at the marriage procces, building house procces, farming procces, shepherd buffalo, from born till the dead of themselves, they are together helping each other until they are all rest and meet the ancestors-Marapu.

gotong royong di sumba [2]

gotong royong di sumba [2]

gotong royong di sumba [3]

gotong royong di sumba [3]

gotong royong di sumba [5]

gotong royong di sumba [5]

#

Kapita, Oe,H. 1976. Sumba Di Dalam Jangkauan Jaman. BPK Gunung Mulia.
D, Dharmaputra. Marapu Kekuatan di Balik kekeringan.

One thought on “SUMBA Masa Kini

  1. Pingback: Mamuli, Marapu, Ichthius dan Kristen - Rowa Rara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>