Masyarakat Onta Dan Masyarakat Kapal – Udara

Masyarakat Onta Dan Masyarakat Kapal-Udara

Pada suatu hari saya punya anjing menjilat air di dalam panci di dekat  sumur.

Saya punya anak Ratna Juami berteriak:

- “Papie,’ papie, si Ketuk menjilat air di dalam panci!”

+ Saya jawab: “Buanglah air itu, dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin.”

- Ratna termenung sebentar. Kemudian ia menanca: “Tidakkah Nabi bersabda, bahwa panci ini mesti dicuci tujuh kali, antaranya satu kali dengan tanah?”

+ Saya menjawab: “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin. Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang me­makai sabun dan kreolin.” Muka Ratna menjadi tenang kembali!

Itu malam ia tidur dengan roman muka yang seperti bersenyum, seperti mukanya orang yang mendapat kebahagiaan besar.

Ir. Sukarno

Paradox Pembangunan

salah satu rumah hunian warga

salah satu rumah hunian warga di sekitar desa oebopo, kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan dan telekomunikasi di daerah ekonomi tertinggal cenderung lebih lambat dibandingkan pembangunan rumah ibadah*.

Berdasarkan interpretasi penulis, hal ini dapat bermakna sebagai berikut:

1. Masyarakat daerah tertinggal, pemerintah setempat dan pemertintah pusat lebih mengutamakan keselamatan rohaniawi dibandingkan badani

2. Pemerintah belum mampu menyediakan materi pembangunan agar masyarakat menjadi sadar untuk melawan jerat kemiskinan

3. Belum lengkapnya point kedua di atas menyebabkan masyarakat masih belum matang secara idea

4. Organisasi keagamaan jeli melihat bahwa masyarakat hidup  dengan berbagai kekurangan-kemiskinan Materi dan Idea sehingga membawa misi menyadarkan diri masyarakat lewat pembangunan rumah ibadah di daerah-daerah tertinggal

5. Sementara pemerintah lepas tangan dan  membiarkan pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan dan telekomunikasi dalam masyarakat tertinggal tetap seperti 10-20-30 tahun yang lalu sedangkan di pusat Mr. presiden terus mendoktrin lewat pidatonya “kerja,kerja, dan kerja”  sementara di daerah-daerah tertinggal yang terdengar hanyalah kalimat “teruslah berdoa

Ketika menulis ini, penulis teringat akan pernyataan dari Tan Malaka dalam bukunya Naar De Republiek Indonesie yaitu “pemerintah mengetahui dengan tepat jumlah penduduknya beserta usia pekerjaan jenis kelamin agama dan lain lain namun lupa untuk memberi memberi mereka makan satu persatu.

Penulis ingin mengatakan bahwa masing-masing kita percaya akan adanya hidup setelah kematian namun janganlah lupa bahwa kita masih hidup di dunia dan bertanggung jawab atas diri sendiri dan masyarakat tempat kita tinggal sebagai syarat untuk hidup di dunia selanjutnya

Tubuh perlu diberi makan demikian juga jiwa. Jangan hanya memberi makan tubuh, jangan hanya memberi makan jiwa tapi berilah makan kedua-duanya, sehingga masing-masing kita dapat benar benar hidup dan dapat bersama-sama lepas dari jerat perangkap-penjajahan kemiskinan badania dan rohaniwi.

*pengamatan penulis di berbagai lokasi, ex: Sumba dan Timor.

Museum sebagai Cermin Diri

UPT Museum Daerah NTT

UPT Museum Daerah NTT

Setelah melakukan magang selama 30 hari UPT Museum Daerah NTT penulis menyadari bahwa museum bukan hanya sebagai tempat hiburan, tempat menyimpan benda-benda rongsokan atau benda-benda yang diyakini menyimpan benda bertuah milik nenek moyang yang dapat memberi kekuatan seperti Superman atau merubah tubuh manusia biasa menjadi seperti tank baja yang kebal peluru oleh karena kekuatan-kekuatan magis di dalamnya. Persepsi masyarakat pada umumnya ialah tidak ada apa-apa di Museum, koleksi benda-bendanya hanya itu-itu saja (membosankan), kuno dibandingkan Mall-mall khas produk Paris, Amerika, Jepang atau China. Terlalu materialistis semu, lupa akan doktrin-doktrin idealis penting di balik kehadiran setiap benda-benda tersebut baik itu benda di Museum maupun Mall-mall tadi, mengakibatkan masyarakat bangsa Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu lupa akan jati diri masing-masing, lupa bahwa kulit kita hitam, kuning, sawo matang bukan putih khas korea, lupa bahwa rambut kita keriting, bergelombang, tidak lurus seperti sutera China, hidung kita tidak setinggi gunung-gunung Eropa, nenek moyang menciptakan pakaian yang terbuat dari kapas di bumi tempat mereka berpijak sehingga kebutuhan sandang terpenuhi, makanan kita seharusnya bukanlah keju dan roti atau Kentucky Fried Chicken melainkan beras, jagung, umbi-umbian yang disediakan alam melalui bertani darat maupun laut bukan fastfood yang dicampur dengan doktrin konsumtif dan hedonistik asing, pangan menjadi terpenuhi, untuk papan dengan mudah dikerjakan secara bersama-sama dengan masyarakat dan dengan Alam untuk terciptanya bangunan tempat berteduh. Singkatnya ini menunjukkan bahwa Nenek moyang mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan dengan cara hidup berdampingan dengan Alam juga sang pencipta yang dapat dilihat dari benda-benda koleksi hasil cipta mereka di Museum.

Masuknya teknologi lewat globalisasi (pasar bebas) semakin membikin bangsa ini melupakan jati diri sebagai bangsa yang mampu dan kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri bukan serba instan sehingga generasi sekarang melupakan proses, daya cipta menjadi hilang digantikan dengan budaya membeli sehingga tidak heran mengapa bangsa ini hanya menjadi bangsa peniru dan konsumtif semata. Pemerintah dan masyarakat lalai juga luput membangun sumber daya manusia lewat pengenalan akan budaya, teori dan pemikiran barat seutuhnya dianut dan dijalankan, sementara kita lupa bahwa banyak kearifan lokal yang sesungguhnya melampaui rasio dan teori-teori barat. Terlalu panjang bila saya menjelaskannya dalam tulisan ini akan keagungan dari pemikiran-pemikiran generasi nenek moyang terdahulu, meskipun secara pribadi saya tidak menutup mata bahwa di sisi lain teori dan pemikiran barat telah terlebih dahulu maju dan berkembang menginvasi pemikiran timur sejak 350 tahun ke belakang dan semakin bertumbuh seiring pesatnya kolonialisasi penjajah atas bangsa-bangsa di luar amerika Eropa saat itu yang hanya semakin mencemari dan mengotori nilai-nilai persatuan dan solidaritas bangsa-bangsa di Indonesia selaku bangsa yang besar, mampu dan Merdeka.

 

Mamuli, Marapu, Ichthius dan Kristen

mamuli dan marapu

mamuli dan marapu

Mamuli merupakan mas kawin yang digunakan orang sumba yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan terkhususnya ibu dari sang mempelai wanita bermakna sebagai lambang kesuburan, kehidupan dan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada sang ibu yang telah melahirkan sang anak (mempelai wanita).

mengenal tentang Ichthius (ichthys):

“Greeks, Romans, and many other pagans used the fish symbol before Christians. Hence the fish, unlike, say, the cross, attracted little suspicion, making it a perfect secret symbol for persecuted believers. When threatened by Romans in the first centuries after Christ, Christians used the fish mark meeting places and tombs, or to distinguish friends from foes. According to one ancient story, when a Christian met a stranger in the road, the Christian sometimes drew one arc of the simple fish outline in the dirt. If the stranger drew the other arc, both believers knew they were in good company. Current bumper-sticker and business-card uses of the fish hearken back to this practice.”

“menyatakan bahwa simbol ikan ini merupakan simbol rahasia yang digunakan oleh penganut ajaran Kristus yang teraniaya oleh kekuasaan romawi saat itu. menurut sejarah, ketika orang kristen bertemu di jalan, mereka akan menggambar satu lengkungan sederhana menyerupai setengah ikan. jika orang asing menggambar lengkungan menyerupai setengah ikan lainnya, mereka akan saling percaya untuk dapat bekerjasama.”

Dengan demikian saya berkesimpulan bahwa bentuk gambar Ichthius (ichthys) yang menyerupai ikan ini merupakan simbol yang menunjukan bahwa mereka adalah pengikut ajaran kristus (kristen saat ini).

Saya tidak ingin membatasi dugaan saya sebatas mamuli sebagai representasi alat reproduksi wanita dan sebagai mas kawin semata, lebih jauh daripada itu saya menduga bahwa Mamuli merupakan simbol Ichthius (ichthys) yang memiliki pesan (tersembunyi dan rahasia) yang bermakna bahwa nenek moyang/penganut Marapu (kepercayaan lokal Sumba) saat itu ialah penganut ajaran kristus!

Kajalla, kedatangan nenek moyang Sumba

Kajalla, kedatangan nenek moyang Sumba

kain panggiling sumba-Yaman

kain panggiling sumba- foto yang di tengah merupakan foto pernikahan di Yaman

Perlu dicatat bahwa pada artikel saya sebelumnya tentang asal nenek moyang orang sumba bahwa mereka berasal dari Makkah tabakul (Mekkah-Arab Saudi yang membesarkan kita), lalu tidak dijelaskan keberadaannya kemudian mereka telah berada di Malaka Tanabara (Malaysia), dst sampai di  Haharu Malai – Kataka Lindiwatu (tanjung sasar, Pulau Sumba)

kembali ke dugaan saya sebelumnya tentang kepercayaan Marapu dan ajaran Kristus yang diperkuat dengan kesamaan antara bahasa ibrani dan banyak istilah dalam bahasa sumba  yang meyakini adanya sosok pencipta (causa prima) berupa:

  1. Na Mapadikangu Tau (Pencipta Manusia), Na Mawulu Tau Na Majii Tau (Yang Membentuk dan Membuat Manusia), Na Mawulu Tanga Mata Kalindi Uru-Na Mahangatu RI Wihi RI Lima (Yang Membentuk Alis Mata dan Batang Hidung. Yang Menyayat Tulang Kaki dan Tulang Tangan) Na Ndiawa Tumbu-Na Ndiawa Dedi (Dewa Yang Menumbuhkan dan Dewa Yang Menjadikan)= Jehovah Hosenu – Tuhan pencipta – Mazmur 95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.
  2. Ina Nuku-Ama Hera (Ibu Hukum dan Bapak Cara), Na Matimba Nda Haleli-Na Mandahi Nda Panjilungu (Hakim Yang Maha Adil), Na Mailu Paniningu-Na Mangadu Katandakungu (Yang Memandang dengan Teliti dan Meninjau dengan Tuntas, Yang mengetahui segala perbuatan baik atau buruk dari tingkah laku manusia), Mapatandangu Manjipu-Na Mapatandangu Mandoku Mandanga (Yang Memperha tikan yang Salah dan Menimbang yang Keliru) = Elohim Shoptim Ba Arete – Tuhan keadilan bumi – Mazmur 58:12 Dan orang akan berkata: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi.”, Hakim yang adil – 2 timotius 4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. Elohei Mishpat. God of Justice (Isa. 30:18). Jehovah Tsidkenu (The Lord Our Righteousness)
  3. Na Mapadikangu Awangu Tana (Pencipta Langit dan Bumi), La Hupu Ina-La Hupu Ama (Ibu Segala Ibu dan Bapak Segala Bapak), Na Ina Mbulu-Ama Ndaba (Ibu dan Bapak Seisi Alam) Na Ina Pakawurungu-Na Ama Pakawurungu (Ibu dan Bapak dari Seluruh Yang Ada), Ina Bai-Ama Bokulu (Ibu Agung dan Bapak Besar) Ina Makaluni-Ama Makaluni (Ibu dan Bapak Yang Kudus)= Elohim, Sang Pencipta yang Maha Kuasa, Jehovah-Tsebahoth: Tuhan semesta alam. 1 Samuel 01:03, Adon Olam — “Penguasa Semesta”.
  4. Na Pandanyura Ngara-Na Pandapiaka Tamu (Yang Tidak Disebut Gelarnya dan Yang Tidak Dikatakan Namanya)= Yahweh is the promised name of God. This name of God which (by Jewish tradition) is too holy to voice, is actually spelled “YHWH” without vowels
  5. Mayapa Watu Wulu-Matema Loja Lala (Pemegang Batu Ciptaan dan Penadah Kuali Leburan)
  6. Ndiawa Mbulungu -Pahomba Mbulungu (Jiwa dan Roh Yang Esa)
  7. Na Mabokulu Wua Matana- Na Mambalaru Kahiluna (Yang Besar Biji Matanya-Yang Lebar Telinganya, Yang dapat melihat dan mendengar seluruhnya) = El Roi, Allah yang Melihat
  8. Na Kandapu Nda Ngihirungu-Na Karangga Nda Lelingu (Bukit Yang Tak Beranjak dan Ranting Yang Tak Bergerak,Yang Abadi)= Yah/YHWH, AKU, TUHAN yang tidak pernah berubah, TUHAN yang swa-ada, El Olam (The Everlasting God)

Satu hal yang pasti ialah kepercayaan Marapu meyakini bahwa sang Pencipta Tertinggi itu ada dan Esa/Satu/Tunggal, adapun semacam dewa-dewa atau benda-benda yang dikeramatkan itu hanya dianalogikan sebagai seksi-seksi dalam struktur pemerintahan di mana masyarakat (manusia) terlalu sungkan untuk langsung meminta kepada presiden (Pencipta) maka terlebih dahulu ia menyampaikannya kepada kepala-kepala bidang tangan kanan presiden, misalnya (bisa malaikat atau dewa dalam pemahaman marapu) tetapi dengan jelas mereka meyakini kedudukan tertinggi ialah sang Na Mapadikangu Awangu Tana; Tuhan sang Pencipta.

 

sumber:

http://www.christianitytoday.com/ch/asktheexpert/oct26.html

https://www.blueletterbible.org/study/misc/name_god.cfm

http://id.wikipedia.org/wiki/Marapu

https://yesushidup.wordpress.com/2012/03/20/nama-dan-gelar-tuhan/

KOTA KASIH (?)

faith and action

faith and action

Saya memimpikan sebuah kota, sebuah negara, sebuah dunia yang penuh KASIH. bukan sebuah tempat yang penuh dengan rumah peribadatan namun anggotanya tidak MELAYANI lewat KASIH. anggota yang masih angkuh untuk MELAYANI setiap rakyat jelata, setiap miskin, setiap kusta, setiap penjahat, setiap pelacur, setiap MANUSIA, setiap budaya. setiap AGAMA, setiap yang membutuhkan. KASIH yang universal.
KASIH bukanlah harus melalui pelayanan MATERI (kebendaan), contoh NON MATERI misalnya dengan tersenyum kepada sesama umat MANUSIA, sayangnya GENGSI dan KEMUNAFIKAN terlebih dahulu menyapa; tersenyum bila dia terlebih dahulu tersenyum, tersenyum bila dia bermateri, tersenyum bila, bla bla bla…
ironi bila melihat pemimpin kota, kabupaten maupun propinsi yang notabene beragama Kristen masih berperilaku seperti pemimpin-pemimpin feodal ROMAWI dan YAHUDI kuno yang belum mengenal dan menerima YESUS KRISTUS yaitu perilaku elitis, gengsi dan menunggu untuk dilayani yang padahalnya setiap dua kali seminggu selalu pergi ke rumah peribadatan melebihi masyarakat umumnya, entah apa yang dilakukan. pemimpin tertinggi umat kristiani di seluruh dunia ialah YESUS KRISTUS yang lahir di kandang domba, Ia lahir bukan di istana, di rumah sakit, penginapan mewah dan sebagainya, hidupnya dihabiskan untuk melayani bersama peminta-minta (orang miskin), nelayan, orang asing, orang penyakitan, anak-anak kecil, dan sebagainya. kekuasaannya digunakan untuk MELAYANI orang melarat yang sangat membutuhkan, bukan untuk semakin mensejahterankan elitis seperti pemimpin era sekarang.

sebagai akhir ijinkan saya menyimpulkan tulisan ini menjadi dua point penting kepada pembaca yang budiman dan penuh kasih;
(1)IMAN terletak pada kepercayaan atas perbuatan yang dilakukan berkenan bagi YESUS KRISTUS, bukan terpisah antara PERCAYA dan BERBUAT, PERCAYA ADALAH BERBUAT. IMAN ADALAH PERBUATAN BAHWA kita PERCAYA pada YESUS KRISTUS sebagai Anak ALLAH. bila tidak maka konsekuensinya adalah jelas MATI. (Yakobus 2:17)
(2)KASIH merupakan alasan sang penebus dosa MELAYANI umat manusia melalui kematiannya. (Yohanes 3:16)
*jumat agung, 03 april 2015.

referensi:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2:17

Nasionalisme dalam kasus Duo Bali Nine

Nasionalisme Musiman

Nasionalisme Musiman

Tingkatan tertinggi dari Nasionalisme bukan terletak pada paham kenegaraan atau kebangsaan semata namun lebih terletak pada tatanan peri kemanusiaan. Kemanusiaan yang bukan memandang latar negara, bangsa, warna kulit, politik, agama, budaya, dstnya namun bagaimana memandang manusia lain sebagai satu sama dengan kita; tidak terbatas pada batasan-batasan tertentu.

Dalam kasus Duo Bali Nine (dua orang warga negara Australia) yang hendak dieksekusi mati misalnya, menurut penulis; pemerintah menggunakan kacamata analisis Nasionalisme sempit semata yang tidak pada tempatnya, seperti alasan kedaulatan negara yang tidak boleh diintervensi asing dan alasan Nasionalisme (?) tentu tidak tepat. kacamata Nasionalisme yaitu peri kemanusiaan yang harus dipakai, diperkuat dengan budaya dan tatakrama ketimuran kita yang susah untuk mengatakan tidak apalagi menolak permintaan orang lain (negara lain). Pada kasus ini bolehlah saya menyatakan bahwa bangsa Indonesia perlahan (sengaja) melupakan jati diri bangsa.

Jika ingin berdaulat bukanlah dengan eksekusi Warga Negara lain, yang padahal di sisi lain kita juga menolak eksekusi Warga Negara Indonesia di luar negeri. Pembangunan sumber daya manusia yang harus diutamakan oleh pemerintah dan seluruh masyarakat.

Sungguhpun dengan mengeksekusi duo bali nine takkan berdampak apapun bagi harkat dan martabat bangsa, hanya justru citra ketidak adilan dan pembunuh saja yang melekat pada nama Indonesia.