Masyarakat Onta Dan Masyarakat Kapal – Udara

Masyarakat Onta Dan Masyarakat Kapal-Udara

Pada suatu hari saya punya anjing menjilat air di dalam panci di dekat  sumur.

Saya punya anak Ratna Juami berteriak:

- “Papie,’ papie, si Ketuk menjilat air di dalam panci!”

+ Saya jawab: “Buanglah air itu, dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin.”

- Ratna termenung sebentar. Kemudian ia menanca: “Tidakkah Nabi bersabda, bahwa panci ini mesti dicuci tujuh kali, antaranya satu kali dengan tanah?”

+ Saya menjawab: “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin. Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang me­makai sabun dan kreolin.” Muka Ratna menjadi tenang kembali!

Itu malam ia tidur dengan roman muka yang seperti bersenyum, seperti mukanya orang yang mendapat kebahagiaan besar.

Ir. Sukarno

Marhaenis utopis dan Marhaenis realis

Marhaen utopis dan marhaen realis
Banyak sudah coretan untuk menjawab bagaimana seharusnya tulisan ini dimulai.
Sebenarnya penulis ingin mengambil beberapa judul untuk dijadikan topic, yaitu: marhaen di tengah gelombang samudera atau marhaen utopis dan marhaen realis. Nampaknya topic kedua lebih tepat untuk ditulis, lebih tepatnya sebagai deklarasi penulis akan banyak hal yang berbeda antara dunia idealism dan dunia realism, dunia akademik dan di luar akademik.
Penulis ingin katakana bahwa di abad 21, menjadi seorang marhaenis janganlah bodoh dan buta matanya yang hanya dipergunakan untuk membaca tulisan pada buku-buku perjuangan, atau sekedar berdiskusi dengan rekan-rekan sesame pejuang menggunakan kacamata kuda dengan acuan-buku-buku namun miskin pnengalaman, tidak mengerti akan kebutuhan masyarakt terkhususnya petani dan nelayan.
Penulis bersyukur karena pernah menggunakan kacamata kuda yang hanya pandai membaca dan menerjemahkan beberapa kata-kata buku, beberapa di antaranya penulis-penulis pejuang kemerdekaan seperti tan malaka, sukarno, moh, hatta, dan akhir-akhir ini tulisan sutan syahrir yang menarik. Tidak luput pemikir sekaligus pejuang besar dunia seperti marx, engels, stalin, lenin, Trotsky, che Guevara dan beberapa lainnya. Namun beberapa di antaranya terkhususnya penulis pejuang kemerdekaan Indonesia memiliki tulisan yang sudah usang dan tidak relevan dengan peradaban bangsa Indonesia tahun 2016 kini.
Perkara berpikir dan perkara berjuang sudah lebih kompleks dengan masuknya berbagai inovasi manusia dari berbagai belahan dunia dalam perkara kemudahan kerja terkhususnya inovasi di bidang pertanian dan kelautan.
Tani dan nelayan abad 21 tidak seharusnya tergantung lagi pada alat-alat produksi tradisional seperti cangkul, sekop, ling gis, kerbau, perahu-perahu sederhana, kayu pendayung, dan seterusnya yang masih sangat sederhana seperti abad jauh yang telah lalu.
Alat-alat atau lebih tepatnya mesin-mesin harus dapat diperoleh dan dipergunakan oleh kaum tani nelayan agar segera lepas dari jerat kemiskinan dan kebodohan.
Mesin menanam padi, mesin memotong sekaligus merontokkan padi, alat penggilingan, perahu kecil sampai besar sudah seharusnya dibekali mesin-mesin penggerak, mesin Derek, pukat kecil sampai pukat besar, dan berbagai inovasi pertanian dan kelautan yang terbarukan.
Agak sulit memang untuk terpenuhi namun jawaban atas masalah pertanian dan kelautan ialah perlu adanya insentif agar menambah daya juang serta menambah hasil atas apa yang dikerjakan.
Insentif yang dimaksud ialah perhatian pemerintah dan kerjasama dari pihak tani –nelayan agar bertanggung jawab pada pengelolaan bantuan dari pemerintah dengan prinsip gotong royong di antaranya.
Penulis menyadari bahwa gagasan seperti ini perlu dibagi juga terkhususnya kepada rekan-rekan yang memperjuangkan kehidupan buruh,tani, dan nelayan. Berapa di antara kaum kita yang mengetahui dan mampu menjabarkan kebutuhan saudara-saudara kita kaum tani dan kaum nelayan? Berapa di antara kita yang sudi mengabdikan jiwa dan raganya bermandi keringat tepat di bawah matahari mengerjakan pekerjaan tani dan nelayan? Berapa di antara kita mampu memaknai kehidupan mereka? berapa di antara kita mau mengalaminya? Mengetahui jangan hanya kulit saja. Atau hanya jago berorasi yang sesungguhnya seperti memanggang dengan api bernyala matang dan gosong luarnya namun masih mentah di bagian dalamnya. Kita haruslah dapat menjadi fasilitator, atau membikin kegiatan-kegiatan sosialisasi, atau membantu tani nelayan membikin proposal bantuan kepada pemerintah sesuai dengan kebutuhan mereka, daripada hanya melakukan rapat-rapat membahas anggaran, kunjungan-kunjungan yan tidak beda dengan safari-safari para elit, berdemonstrasi dan kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak berdampak secuilpun pada hidup tani dan nelayan. BERAT temanku, ya berat menjadi tani pun juga nelayan.
Dan ucapan terimaksih kepada rekan-rekan tani juga nelayan yang sudi membagi pengetahuan dan pengalaman ini secara langsung kepada penulis.

/Bera, Sumba 2016

Paradox Pembangunan

salah satu rumah hunian warga

salah satu rumah hunian warga di sekitar desa oebopo, kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan dan telekomunikasi di daerah ekonomi tertinggal cenderung lebih lambat dibandingkan pembangunan rumah ibadah*.

Berdasarkan interpretasi penulis, hal ini dapat bermakna sebagai berikut:

1. Masyarakat daerah tertinggal, pemerintah setempat dan pemertintah pusat lebih mengutamakan keselamatan rohaniawi dibandingkan badani

2. Pemerintah belum mampu menyediakan materi pembangunan agar masyarakat menjadi sadar untuk melawan jerat kemiskinan

3. Belum lengkapnya point kedua di atas menyebabkan masyarakat masih belum matang secara idea

4. Organisasi keagamaan jeli melihat bahwa masyarakat hidup  dengan berbagai kekurangan-kemiskinan Materi dan Idea sehingga membawa misi menyadarkan diri masyarakat lewat pembangunan rumah ibadah di daerah-daerah tertinggal

5. Sementara pemerintah lepas tangan dan  membiarkan pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan dan telekomunikasi dalam masyarakat tertinggal tetap seperti 10-20-30 tahun yang lalu sedangkan di pusat Mr. presiden terus mendoktrin lewat pidatonya “kerja,kerja, dan kerja”  sementara di daerah-daerah tertinggal yang terdengar hanyalah kalimat “teruslah berdoa

Ketika menulis ini, penulis teringat akan pernyataan dari Tan Malaka dalam bukunya Naar De Republiek Indonesie yaitu “pemerintah mengetahui dengan tepat jumlah penduduknya beserta usia pekerjaan jenis kelamin agama dan lain lain namun lupa untuk memberi memberi mereka makan satu persatu.

Penulis ingin mengatakan bahwa masing-masing kita percaya akan adanya hidup setelah kematian namun janganlah lupa bahwa kita masih hidup di dunia dan bertanggung jawab atas diri sendiri dan masyarakat tempat kita tinggal sebagai syarat untuk hidup di dunia selanjutnya

Tubuh perlu diberi makan demikian juga jiwa. Jangan hanya memberi makan tubuh, jangan hanya memberi makan jiwa tapi berilah makan kedua-duanya, sehingga masing-masing kita dapat benar benar hidup dan dapat bersama-sama lepas dari jerat perangkap-penjajahan kemiskinan badania dan rohaniwi.

*pengamatan penulis di berbagai lokasi, ex: Sumba dan Timor.

Konflik dan Hari Buruh Internasional

intro

Hari ini 30 april 2015, banyak gejolak konflik saling berbenturan di dalam pikiran, menyebabkan kepala penulis sedikit sakit entah karena memang ada penyakit materi atau penyakit non materi berbenturan di kepala, dan ini merupakan konflik pertama yang dialami diri penulis.

Pada paragraf-paragraf selanjutnya di bawah, pembaca akan menemukan beberapa konflik selanjutnya sehingga terlahirlah  tulisan ini.

tentang penulis; ini merupakan tahun keempat dalam studi saya menimba ilmu pengetahuan di dunia perguruan tinggi dan sekarang (1) sedang berkutat dengan tugas akhir menyelesaikan kuliah yang tidak terlalu sulit untuk segera diselesaikan namun terkadang cukup membebani, karena di sisi lain (2) dinamika dan kesibukan dalam organisasi pergerakan (dalam kepala saya) turut ingin mendapat perhatian penuh, juga (3) tentang romantika, ya tentang romantika, di mana sering muncul pertanyaan; bung karno itu lebih memperjuangkan negara ataukah perempuan? Juga romantika science dan rommantika materi marxist melawan romantika idealis hegel,, tak ayal pertanyaan yang sama kembali muncul untuk diri saya sendiri dengan sedikit tambahan yang semakin memusingkan kepala; (4) bila saya, manakah yang lebih diperjuangkan negara ataukah perempuan ataukah tugas akhir?……………………., tidak mudah dijawab. Butuh berhari-hari untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya dengan mempertimbangkan jawaban yang logis dan bijak. Syukurnya hari ini saya mendapatkan sedikit gambaran jawaban, yaitu saya akan terlebih dahulu memilih NEGARA beserta cinta dan beserta organisasi perjuangan, beserta dunia akademika, bersama para tani, bersama para buruh, bersama para pedagang kecil, bersama para pemulung, bersama pegawai-pegawai kecil, bersama para kaum melarat bersama seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, kenapa? Karena bila NEGARA dapat mewujudkan SOSIALISME INDONESIA maka kejahatan pembegalan, perampokan, pencurian, penindasan, pertikaian, korupsi, hukum yang tidak adil-tidak akan terjadi dan cinta dengan sendirinya akan datang, kesuksesan di dunia pendidikan tidak lagi menjadi masalah, semua orang baik miskin maupun kaya dapat berjalan bersama-sama menyelesaikan studinya di dunia pendidikan sehingga kesejahteraan umum itu dapat terwujud di bumi Indonesia. Itulah cita-cita luhur yang dibayar oleh darah para pejuang kemerdekaan guna diwariskan oleh para penerus bangsa, saya pikir demikian.

tentang negara; (5) tentang Hukuman mati yang dilaksanakan di tanah ibu pertiwi oleh pengkhianatan anak-anak bangsa terhadap sila ke-dua pancasila: kemanusiaan yang beradab sebagai ideologi bangsa, (6) petani yang membeli pupuk dengan harga mahal, (7) bbm yang terus naik yang mengakibatkan banyak pengguna kendaraaan motor yang tewas di jalan raya ditabrak pengendara lain karena bahan bakarnya habis di tengah jalan, (8) diperberat dengan kehidupan para marhaen yang semakin melarat dan (9) kaum buruh yang semakin tertindas, (10) point ke-sembilan yang akan saya bahas pada tulisan ini; paragraf selanjutnya.

konflik tentang kaum buruh yang semakin tertindas.

Besok merupakan tanggal 1 mei 2015 merupakan hari buruh internasional yang mengajak kita untuk sejenak berpikir setiap usaha kerja keras dan produk yang dihasilkan oleh para buruh dunia untuk menciptakan jasa dan sebuah produk dalam sebuah perusahaan, hari ini banyak produk dan jasa yang dihasilkan oleh para kaum buruh dunia (kaum pekerja) dan sudah tidak ternilai lagi berapa ratus ribu triliun keuntungan yang dihasilkan memenuhi bank-bank dunia, sayangnya beratus ribu triliun uang hasil produksi para buruh dunia tadi itu masuk kepada kantong-kantong pribadi pemilik modal dan buruh hanya diberikan sangat sedikit dari keuntungan yang sangat banyak tersebut. Dari uang yang sangat sedikit tersebut buruh hanya mampu untuk makan dan minum,hanya untuk sekedar hidup agar dapat terus bekerja kepada perusahaan tersebut; inilah sistem penindasan manusia atas manusia era baru yang diciptakan oleh para pemilik modal yang juga berdampak pada matinya daya kreasi cipta para kaum buruh, proses ketergantungan ini berlangsung sampai para buruh tidak lagi mempunyai tenaga untuk dihisap oleh para pemodal dunia, sampai mati. Idealnya sebuah perusahaan haruslah dapat membangun bersama-sama para buruh, bekerja bersama dan mendapat hasil yang sama, jika prinsip ini yang dipakai oleh setiap perusahaan maka perlahan sosialisme (kesejahteraan) dunia dapat terwujud, seperti mengutip pernyataan Mahatma Gandhi: dunia cukup untuk memenuhi kebahagiaan semua orang tapi tidak cukup untuk memenuhi kerakusan satu orang. Hidup buruh internasional !

Mahatma Gandhi (1869-1948)

Mahatma Gandhi (1869-1948)

ps. Konflik pastilah selalu menghasilkan sesuatu seperti kelahiran, Kematian, pembangunan, penghancuran, pembangunan kembali, persatuan, perpisahan, revolusi, kemerdekaan, kemiskinan, kekayaan, keuntungan, kerugian, kesehjateraan yang kesemuanya terbagi dalam baik dan buruk. Penulis-pun mengakui bahwa tulisan ini juga merupakan buah dari konflik, baik atau buruknya penulis serahkan kepada pembaca, sekiranya bermanfaat. Merdeka !