Museum sebagai Cermin Diri

UPT Museum Daerah NTT

UPT Museum Daerah NTT

Setelah melakukan magang selama 30 hari UPT Museum Daerah NTT penulis menyadari bahwa museum bukan hanya sebagai tempat hiburan, tempat menyimpan benda-benda rongsokan atau benda-benda yang diyakini menyimpan benda bertuah milik nenek moyang yang dapat memberi kekuatan seperti Superman atau merubah tubuh manusia biasa menjadi seperti tank baja yang kebal peluru oleh karena kekuatan-kekuatan magis di dalamnya. Persepsi masyarakat pada umumnya ialah tidak ada apa-apa di Museum, koleksi benda-bendanya hanya itu-itu saja (membosankan), kuno dibandingkan Mall-mall khas produk Paris, Amerika, Jepang atau China. Terlalu materialistis semu, lupa akan doktrin-doktrin idealis penting di balik kehadiran setiap benda-benda tersebut baik itu benda di Museum maupun Mall-mall tadi, mengakibatkan masyarakat bangsa Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu lupa akan jati diri masing-masing, lupa bahwa kulit kita hitam, kuning, sawo matang bukan putih khas korea, lupa bahwa rambut kita keriting, bergelombang, tidak lurus seperti sutera China, hidung kita tidak setinggi gunung-gunung Eropa, nenek moyang menciptakan pakaian yang terbuat dari kapas di bumi tempat mereka berpijak sehingga kebutuhan sandang terpenuhi, makanan kita seharusnya bukanlah keju dan roti atau Kentucky Fried Chicken melainkan beras, jagung, umbi-umbian yang disediakan alam melalui bertani darat maupun laut bukan fastfood yang dicampur dengan doktrin konsumtif dan hedonistik asing, pangan menjadi terpenuhi, untuk papan dengan mudah dikerjakan secara bersama-sama dengan masyarakat dan dengan Alam untuk terciptanya bangunan tempat berteduh. Singkatnya ini menunjukkan bahwa Nenek moyang mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan dengan cara hidup berdampingan dengan Alam juga sang pencipta yang dapat dilihat dari benda-benda koleksi hasil cipta mereka di Museum.

Masuknya teknologi lewat globalisasi (pasar bebas) semakin membikin bangsa ini melupakan jati diri sebagai bangsa yang mampu dan kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri bukan serba instan sehingga generasi sekarang melupakan proses, daya cipta menjadi hilang digantikan dengan budaya membeli sehingga tidak heran mengapa bangsa ini hanya menjadi bangsa peniru dan konsumtif semata. Pemerintah dan masyarakat lalai juga luput membangun sumber daya manusia lewat pengenalan akan budaya, teori dan pemikiran barat seutuhnya dianut dan dijalankan, sementara kita lupa bahwa banyak kearifan lokal yang sesungguhnya melampaui rasio dan teori-teori barat. Terlalu panjang bila saya menjelaskannya dalam tulisan ini akan keagungan dari pemikiran-pemikiran generasi nenek moyang terdahulu, meskipun secara pribadi saya tidak menutup mata bahwa di sisi lain teori dan pemikiran barat telah terlebih dahulu maju dan berkembang menginvasi pemikiran timur sejak 350 tahun ke belakang dan semakin bertumbuh seiring pesatnya kolonialisasi penjajah atas bangsa-bangsa di luar amerika Eropa saat itu yang hanya semakin mencemari dan mengotori nilai-nilai persatuan dan solidaritas bangsa-bangsa di Indonesia selaku bangsa yang besar, mampu dan Merdeka.

 

Nasionalisme dalam kasus Duo Bali Nine

Nasionalisme Musiman

Nasionalisme Musiman

Tingkatan tertinggi dari Nasionalisme bukan terletak pada paham kenegaraan atau kebangsaan semata namun lebih terletak pada tatanan peri kemanusiaan. Kemanusiaan yang bukan memandang latar negara, bangsa, warna kulit, politik, agama, budaya, dstnya namun bagaimana memandang manusia lain sebagai satu sama dengan kita; tidak terbatas pada batasan-batasan tertentu.

Dalam kasus Duo Bali Nine (dua orang warga negara Australia) yang hendak dieksekusi mati misalnya, menurut penulis; pemerintah menggunakan kacamata analisis Nasionalisme sempit semata yang tidak pada tempatnya, seperti alasan kedaulatan negara yang tidak boleh diintervensi asing dan alasan Nasionalisme (?) tentu tidak tepat. kacamata Nasionalisme yaitu peri kemanusiaan yang harus dipakai, diperkuat dengan budaya dan tatakrama ketimuran kita yang susah untuk mengatakan tidak apalagi menolak permintaan orang lain (negara lain). Pada kasus ini bolehlah saya menyatakan bahwa bangsa Indonesia perlahan (sengaja) melupakan jati diri bangsa.

Jika ingin berdaulat bukanlah dengan eksekusi Warga Negara lain, yang padahal di sisi lain kita juga menolak eksekusi Warga Negara Indonesia di luar negeri. Pembangunan sumber daya manusia yang harus diutamakan oleh pemerintah dan seluruh masyarakat.

Sungguhpun dengan mengeksekusi duo bali nine takkan berdampak apapun bagi harkat dan martabat bangsa, hanya justru citra ketidak adilan dan pembunuh saja yang melekat pada nama Indonesia.