PANCASILA DAN LGBT

PANCASILA DAN LGBT

GARUDA PANCASILA GAY

GARUDA PANCASILA GAY

Sudah dua lembar kertas yang tercoret untuk mengawali tulisan ini, penulis cukup dipusingkan dengan pertanyaan darimana, bagaimana memulainya dan apa contentnya.

Agar pembaca tidak turut dipusingkan dengan kalimat-kalimat pembuka yang memusingkan ada baiknya penulis langsung mengajak pembaca menganalisis (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) atau Eksistensi perkawinan sejenis di bumi Indonesia menggunakan kacamata Pancasila (dari pemaknaan penulis) dengan pendekatan budaya.

Globalisasi yang didukung dengan berkembangnya teknologi khususnya bidang telekomunikasi memberikan berbagai manfaat bisa baik dan juga buruk. Baik karena dapat menghantar sesuatu yang jauh menjadi dekat dengan cepat, namun menjadi buruk bila mana sesuatu yang jauh itu adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia misalnya.

Salah satunya adalah paham LGBT.

Alias penyuka sesama jenis serta mereka yang pro pernikahan (baca: perkawinan) sejenis. LGBT dan yang pro LGBT terkhusnya di Indonesia bertujuan agar pemerintah segera merumuskan sebuah kebijakan (UU) yang memastikan penghapusan kekerasan dan diskriminasi atas dasar orientasi seksual dan identitas gender seseorang, khususnya bagi kelompok LGBT dan prioritas selanjutnya ialah perjuangan hak-hak LGBT untuk perkawinan sejenis (Hartoyo, Ketua komunitas LGBT Suara Kita, 2015).

Sesuai dengan judul tulisan ini, penulis ingin melihat eksistensi dari Pancasila selaku dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Indonesia. Oleh karena itu peneliti memisahkan cara melihat kasus LGBT ini dengan aliran kepercayaan /agama tertentu namun sesuai dengan pemahaman penulis akan Pancasila.

Singkatnya penulis akan membahasnya dalam beberapa point argumentasi agar mudah dipahami pembaca.

Point pembahasan dan Argumentasi

1. Pancasila digali dari kebiasaan dan adat istiadat budaya bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana dengan budaya sekarang? Paham LGBT berkembang di Amerika dan Eropa dan semakin berkembang luas di seluruh dunia termasuk Indonesia didukung dengan perkembangan alat telekomunikasi. Budaya dan kebiasaan bangsa Indonesia jelas berbeda dengan Amerika atau Eropa yang menonjolkan Kesenangan individu dan kebebasan sedangkan bangsa ini mengutamakan kebahagiaan komunal yang bertanggung jawab terhadap diri, keluarga serta masyarakat. Efeknya bila perkawinan sejenis dilegalkan di bumi Indonesia maka dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan baru yang merugikan keluarga dan masyarakat (contoh yang buruk bagi anak-anak, penyakit menular, dll).

2. Output atau hasil positif dari dilegalkannya perkawinan sejenis bagi masyarakat luas NIHIL: selain penyakit dan kesenangan pribadi pelaku LGBT, tidak menghasilkan keturunan sebagai salah satu ciri khas makhluk hidup (berkembang biak) yang idealnya adalah pria dan wanita atau jantan dan betina.

3. Sesuai sila Pancasila

a. Sila ke 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Adakah perkawinan sejenis beradab dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan (perkawinan yang seharusnya di bumi Indonesia)? TIDAK.

b. Sila ke-3 persatuan Indonesia

Kebiasaan kelompok penyuka sesama jenis bila dominan berada dalam masyarakat maka dapat menjadi bibit perpecahan bangsa atas perbedaan prinsip perkawinan ini.

c. Adakah bijak dilegalkan sesuai dengan sila ke-4 pada konsep perkawinan sejenis setelah menimbang point b dan point a? TIDAK.

d. Sila ke-5 Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keadilan yang berdasarkan pada cara pandang bangsa yang ditopang oleh sila ke-4, sila ke-3, sila ke -2 dan sila ke-1. Dan untuk melegalkan perkawinan sejenis sebaiknya kita telaah pada ke empat sila di atas terlebih dahulu untuk menjawabnya. Adakah sikap dan perilaku gay sudah adil terhadap keluarga, masyarakat dan negaranya?

Penutup

Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara sebagai cara pandang juga sebagai filter masih kompatibel dalam menjawab tantangan global seperti paham-paham asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa di mana paham-paham tersebut sesungguhnya hanyalah bagian dari taktik pemecah belah untuk menghancurkan bangsa dan negara kesatuan yang berbhineka tunggal ika ini.

nb. tulisan ini mungkin bagi sebagian pembaca merupakan hal yang debatable. namun penulis tidak menutup kemungkinan dan membuka diri kemungkinan-kemungkinan di masa mendatang bahwa pancasila dapat flexible seiring dengan perkembangan jaman dan keterbukaan pikiran setiap individu masyarakat indonesia untuk menerima hal-hal yang dianggap baru yang dulunya dianggap tabu.

==

Sumber

http://www.suara.com/news/2015/07/03/121131/lgbt-indonesia-tak-tuntut-pernikahan-sesama-jenis-dilegalkan

https://id.wikipedia.org/wiki/LGBT

Museum sebagai Cermin Diri

UPT Museum Daerah NTT

UPT Museum Daerah NTT

Setelah melakukan magang selama 30 hari UPT Museum Daerah NTT penulis menyadari bahwa museum bukan hanya sebagai tempat hiburan, tempat menyimpan benda-benda rongsokan atau benda-benda yang diyakini menyimpan benda bertuah milik nenek moyang yang dapat memberi kekuatan seperti Superman atau merubah tubuh manusia biasa menjadi seperti tank baja yang kebal peluru oleh karena kekuatan-kekuatan magis di dalamnya. Persepsi masyarakat pada umumnya ialah tidak ada apa-apa di Museum, koleksi benda-bendanya hanya itu-itu saja (membosankan), kuno dibandingkan Mall-mall khas produk Paris, Amerika, Jepang atau China. Terlalu materialistis semu, lupa akan doktrin-doktrin idealis penting di balik kehadiran setiap benda-benda tersebut baik itu benda di Museum maupun Mall-mall tadi, mengakibatkan masyarakat bangsa Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu lupa akan jati diri masing-masing, lupa bahwa kulit kita hitam, kuning, sawo matang bukan putih khas korea, lupa bahwa rambut kita keriting, bergelombang, tidak lurus seperti sutera China, hidung kita tidak setinggi gunung-gunung Eropa, nenek moyang menciptakan pakaian yang terbuat dari kapas di bumi tempat mereka berpijak sehingga kebutuhan sandang terpenuhi, makanan kita seharusnya bukanlah keju dan roti atau Kentucky Fried Chicken melainkan beras, jagung, umbi-umbian yang disediakan alam melalui bertani darat maupun laut bukan fastfood yang dicampur dengan doktrin konsumtif dan hedonistik asing, pangan menjadi terpenuhi, untuk papan dengan mudah dikerjakan secara bersama-sama dengan masyarakat dan dengan Alam untuk terciptanya bangunan tempat berteduh. Singkatnya ini menunjukkan bahwa Nenek moyang mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan dengan cara hidup berdampingan dengan Alam juga sang pencipta yang dapat dilihat dari benda-benda koleksi hasil cipta mereka di Museum.

Masuknya teknologi lewat globalisasi (pasar bebas) semakin membikin bangsa ini melupakan jati diri sebagai bangsa yang mampu dan kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri bukan serba instan sehingga generasi sekarang melupakan proses, daya cipta menjadi hilang digantikan dengan budaya membeli sehingga tidak heran mengapa bangsa ini hanya menjadi bangsa peniru dan konsumtif semata. Pemerintah dan masyarakat lalai juga luput membangun sumber daya manusia lewat pengenalan akan budaya, teori dan pemikiran barat seutuhnya dianut dan dijalankan, sementara kita lupa bahwa banyak kearifan lokal yang sesungguhnya melampaui rasio dan teori-teori barat. Terlalu panjang bila saya menjelaskannya dalam tulisan ini akan keagungan dari pemikiran-pemikiran generasi nenek moyang terdahulu, meskipun secara pribadi saya tidak menutup mata bahwa di sisi lain teori dan pemikiran barat telah terlebih dahulu maju dan berkembang menginvasi pemikiran timur sejak 350 tahun ke belakang dan semakin bertumbuh seiring pesatnya kolonialisasi penjajah atas bangsa-bangsa di luar amerika Eropa saat itu yang hanya semakin mencemari dan mengotori nilai-nilai persatuan dan solidaritas bangsa-bangsa di Indonesia selaku bangsa yang besar, mampu dan Merdeka.

 

Hikayat kedatangan para Marapu; nenek moyang orang Sumba

Sumbanesse Ancestors

Sumbanesse Ancestors

Malaka Tanabara (Malaysia), dengan melintasi Hapa Riu Ndua Riu (kepulauan Riau), Hapa Njawa Ndua Njawa (Pulau Jawa), Ruhuku Bali (Pulau Bali), Ndima Makaharu (Bima, Pulau Sumbawa), Endi Ambarai (Ende, Pulau Flores), Numa Hadamburu, lalu tiba di Haharu Malai – Kataka Lindiwatu (Haharu, Pulau Sumba).

*diolah dari berbagai sumber